March 19, 2016

Sinopsis Descendants Of The Sun Episode 8 - Klepek-klepek Sama Kamu

DrameHouse.com - Setelah mengungkapkan kerinduannya yang mendalam pada Dokter Kang di akhir episode 7, di episode 8 ini kita akan merasa deg-degan bahagia. Kenapa, karena keharuan juga kekocakan setiap adegan dalam episode ini benner-bener bikin kita yang terjangkit virus Descendants Of The Sun makin cinta sama kapten ganteng Song Jong Ki. Dan bagi cingu yang indra penglihatannya jeli, pasti juga akan setuju dengan admin kece yang juga mulai melirik dokter sekaligus montir tampan, Daniel Spencer (Cho Jasper). Argh.... DOTS emang super deh bikin orang mabuk kepayang sama tampang pemainnya yang bening-bening ^^.


"Aku sangat merindukanmu. Apapun yang ku lakukan, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku mencoba melelahkan diriku. Aku berusaha sangat keras melupakanmu. Namu tetap saja selalu ada dirimu. Kali ini aku sungguh-sungguh".
Di saat hatinya ingin pergi, namun Kapten Yoo dan Dokter Mo selalu dipertemukan lagi dalam situasi yang tidak sengaja. Dari tugas relawan ke Uruk, hingga kembalinya Kapten Yoo ke Uruk karena gempa. Emang jodoh gak kemana ya cingu. Berharap mereka benar-benar bisa bersatu, dalam drama ini, di kehidupan nyata ataupun kembali di drama lainnya. *Aminnnnnn berjamaah ^^.

"Istirahtlah, sebenarnya aku ingin mengantarmu. Namun aku harus ke kompi komandan" Kapten Yoo
"Apakah di kompi ada telepon yang bisa aku gunakan. Aku ingin menghubungi seseorang" sedikit pun Dokter Mo tidak membalas kata-kata manis Kapten Yoo. Tapi dia malah ingin menghubungi keluarga Tuan Ko.
Di kompi pusat komando, Dokter Mo mengumpulkan keberaniannya untuk menelpon istri Tuan Ko. Kapten Yoo yang melihat kesedihan di wajah Dokter Mo terus menatapnya dari jauh. Kapten Yoo selalu memperhatikan setiap hela nafas Dokter Mo yang tak kuat menahan tangis. Lalu Kapten Yoo mengikuti Dokter Mo yang berjalan keluar kompi dengan isak tangis penuh kesedihan setelah menyampaikan pesan Tuan Ko pada istrinya melalui telepon.
"Jangan lihat aku" "Apa ada tempat sepi di sekitar sini?" kata Dokter Mo sambil menunduk karena tak ingin Kapten Yoo melihat air matanya
"Seharusnya pria yang mengatakan itu"."Apa kau ingin berpura-pura aku sebagai tempat sepi" goda Kapten Yoo. Dan Dokter Mo membalas candaan Kapten Yoo dengan senyum manisnya yang lagi-lagi bikinhati Kapten Yoo tenang. Aigooooo...
"Kerja bagus hari ini" Kapten Yoo berusaha menenangkan Dokter Mo "Aku tidak bisa menghapus air matamu karena kau tidak menjawab pertanyaanku". Ahh... kapten Yoo nge-modus lagi nih bikin Dokter Mo makin jadi nangisnya.
"Aku sudah...terhibur olehmu" Mendadak Dokter Mo jadi romantis dan membuat hati Kapten Yoo meleleh. "Terima kasih... sudah kembali. Kalau bukan untukmu, aku pasti sudah kabur hari ini"
"Kalau kau kabur pastikan juga mengajakku. Akan jauh lebih baik jika kita kabur bersama" Kapten Yoo
Esok harinya.... Kapten Yoo dan pasukannya kembali melakukan pencarian pada korban hilang di situs pembangunan pembangkit listrik tenaga surya. Sersan Seo menemukan seorang yang masih selamat. Dia ternyata adalah anak muda yang sering di omeli oleh Tuan Ko. Lalu Kapten Yoo menysul tim nya masuk ke reruntuhan bangunan yang sudah di amankan. Meski tidak dizinkan untuk ikut, namun Dokter Mo juga tidak bisa menahan Kapten Yoo.

"Tekanan darah 130 per 110. Denyut nadi 85" lapor Kapten Yoo pada Dokter Mo yang menunggu hasil pertolongan pertama di pos pantau bersama Letnan Yoon, si dokter militer cantik pujaan hati Sersan Seo Dae Young.
"Tanda-tanda vitalnya baik. Beri dia glukosa dan penghilang rasa sakit melalui infus". "Tapi tunggu... apa kau tahu caranya?" Dokter Mo ragu akan kemampuan Kapten Yoo
"Tunggu, kau benar bisa melakukannya" si pasien merasa takut dan gugup lalu menarik tangannya ketika Kapten Yoo akan menyuktikkan infus.
"Astaga.... kenapa semua orang meremehkan aku hari ini" Kapten Yoo mengeluh

Sersan Seo pergi keluar untuk mengambil pompa hidrolik lagi, namun ketika Kapten Yoo dan si pasien masih di dalam reruntuhan, tiba-tiba terjadi goncangan yang sangat keras.

"Apa ini, ini bukan gempa susulan" Letnan Yoon sambil melihat monitor pemantau gempa
"Suara apa ini, periksa pembangkit tenaga listrik" teriak Sersan Seo pada seluruh pasukannya. Sedangkan Kopral Kim Ki Beom meniup peluit untuk memberi tanda kemiringan menara.
"Apa yang terjadi??? gempa susulan?? Ruang situasi...." teriak Kapten Yoo melalui walkie-walkie nya namun tidak tersambung dan komunikasi terputus
"Apa kau baik-baik saja?? sunbaenim.... bicaralah! Kapten... kapten" teriak Letnan Yoon melalui walkie-walkie lalu sambungan terputus. Dokter Mo yang berada di sebelah Letnan Yoon merasa sangat khawatir hingga ingin menangis. "Aku kehilangan kontak" kata Letnan Yoon pada Dokter Mo
"Big Boss... big bosss.... kau dengar" giliran Sersan Seo yang berteriak melalui walkie-walkie karena khawatir pada Kapten Yoo
"Tuan Jin menggali puing-puing" lapor Sersan Choi
"Bawa bajingan itu kesini. Cepat!" perintah Sersan Seo

"Pak... pak.... kau baik-baik saja?? Kenapa kau tidak menjawab. Apa kau sudah mati?" tanya si pasien pada Kapten Yoo yang menindih badannya karena melindungi si pasien dari reruntuhan. Kapten Yoo tak menjawab, bahkan di tidak merempon si pasien. Lalu...
"Bangunlah.... hei! apa dia sudah mati?"
"Jangan panggil aku 'Pak'" sahut Kapten Yoo lalu bangun
"Ah... kau baik-baik saja, kupikir kau sudah mati"
"Apa kau terluka?" 
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Lihatlah dirimu. Kau juga terluka" kata si pasien sambil melihat tangan Kapten Yoo yang berdarah
"Kita tidak akan mati. Kau pasti punya pacar yang menunggumu" kata kapten Yoo sambil mengingat pergelangan tangan nya yang berdarah
"Aku tidak punya pacar, kau?" bals si pasien itu
"Kau mendengar suara dokter wanita tadi? Aku sangat menyukainya. Tapi dia menolakku 3 kali. Haruskan aku mati?"
"Aigoo.... bagaimana kau bisa hidup padahal sudah 3 kali ditolak. Apa kau tidak malu" ejek si pasien pada Kapten Yoo
"Tapi kau terus berusaha, kan" balas Kapten Yoo
 
"Dia akan baik-baik saja. Kita akan mendengar kabar darinya" kata Letnan Yoon berusaha menenangkan Dokter Mo yang terus mengikat tali sepatunya. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku bersiap-siap untuk berlari setiap kali di perlukan. Aku tidak bisa jatuh disini" jawab Dokter Mo yang sangat khawatir pada Kapten Yoo sambil mengikat tali sepatunya karena mengingat adegan Kapten Yoo yang mengikat tali sepatunya saat pertama terjadi gempa di Uruk.
"Wanita itu pasti khawatir. Dia mungkin berpikir aku sudah mati. Dia juga mungkin menyesal karena tidak menerima saat aku menyatakan cinta" celoteh Kapten Yoo pada si pasien
"Jadi kau bahagia??" tanya pasien
"Tidak! Aku khawatir". "Berikan lenganmu, siapa namamu"
"Kang Min Jae. Tapi apa yang akan kau lakukan"
"Ini obat. Jika hanya kau yang selamat dari sini" Kapten Yoo mulai menulis di lengan Kang Min Jae seperti yang dia lakukan pada Kim Ki Beom pada episode pertama.

Lalu Sersan Seo datang. "Lain kali, jika kau masih hidup Langsung menjawab". Korban siap keluar. Tim medis siaga!" perintah Sersan Seo pada pasukannya melalui walkie-walkie.

"Siapa yang menulis ini" tanya Dokter Mo sambil melihat grafik medis di tangan Kang Min Jae
"Prajurit tua yang menyelamatkan hidupku. Senang bisa keluar hidup-hidup. Aku juga bisa melihat dokter cantik sepertimu" Astaga... celotehan Kang Min Jae membuat Dokter Mo semakin takut bahwa Kapten Yoo telah meninggal.

Kemudian terdengar suara Kapten Yoo dari arah belakang Dokter Mo.
"Bawa tandu lain" kata Kapten Yoo di depan Dokter Mo, Mereka pun saling menatap tanpa basa basi sedikitpun
"Apa ada korban lain?" tanya Letnan Yoon
"Aku akan mengurus pasien itu" Dokter Mo pergi meninggalkan Kapten Yoo yang ditandu. Namun Kapten Yoo langsung menarik tangan Dokter Mo sambil berkata pada Letnan Yoon
"Apa kau ingat? Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar Sersan Mayor Seo selamat?"
"Jadi kau merasa aku tidak sopan seperti biasanya?" Jawab Letnan Yoon bingung "Hormat! aku akan merawat pasien itu. Jadi kau rawat pasien ini" kata Letnan Yoon pada Dokter Mo yang baru mengerti dengan kode yang di berikan Kapten Yoo. Ahhh... si kapten nge-modus terus nih. Untung Letnan Yoon cepet tanggap. Jadi deh si kapten dirawat sama dokter cantiknya ^^
"Ini benar-benar sakit" Kapten Yoo merengek pada Dokter Mo
"Aku akan mengobatimu. Tapi apa kau akan terus memegang tanganku?"
"Kenapa dia bisa begitu tenang?" Gerutu Kapten Yoo sambil melepas tangannya dari lengan Dokter Mo

Tuan Jin melapor pada Komandan Batalion karena telah dihajar oleh Sersan Seo. Kemudian Kapten Yoo, Sersan Seo dan Sersan Choi mendapat hukuman karena memukul warga sipil.

"Baiklah, kita selesaikan di pengadilan. Setelah kau selesai dengan laporan perdata dan pidanamu. Aku akan membawamu ke pengadilan militer untuk percobaan pembunuhan". "Dan kalian, kenapa kalian menyerang warga sipil di daerah operasional. Siapkan perlengkapan militer kalian sekarang!" teriak sang komandan
"Yes, Sir" Kapten Yoo, Sersan Mayor Seo dan Sersan Choi menjawab serentak
"Lari 100 putaran. Kecuali pasien Shi Jin. Selesaikan injeksi infusmu"
"Baik pak" Kapten Shi Jin meringis kegirangan karena bebas dari hukuman
"Sebaliknya, lari 200 putaran setelah injeksi infusmu selesai". Kapten Yoo spontan langsung berdiri dan menjawab perintah Komandan Batalion dengan tegas
"Baik pak. Aku akan lari bersama dengan rekanku". Duhhh... meski kaget, wajah si kapten tetep cute kok ^^
Ketika lari, Kapten Yoo tidak membawa perlengkapan militernya karena alasan belum sehat. Lalu dia melihat Dokter Kang sedang menunggunya.
"Aku harus bicara pada dokterku. Jika terus berlari aku akan mati". Hahahaha.... bisa-bisanya kapten aja nih.
"Minum 30 menit setelah makan" Dokter Mo memberikan obat untuk Kapten Yoo
"Terima kasih... telah menyelamatkan hidupku"
"Aku akan menyerahkan daftar nama yang akan kembali nanti" jelas Dokter Mo lalu pergi
"Apa daftarnya sudah final? Apa namamu ada pada daftar itu juga? Ada??" tanya Kapten Yoo. Mungkin kali ini giliran Dokter Mo yang pergi meninggalkan Kapten Yoo. Bukan seperti sebaliknya
"Ini adalah kesempatanku untuk meninggalkanmu" jawab Dokter Mo. Lagi-lagi penolakan terjadi. Ahh.. gwaenchana oppa.... hatiku selalu siap untukmu *pretttt
Di pertemuan itu. Ada beberapa yang tinggal dan beberapa tetap kembali.
"Sebuah pesawat sudah disiapkan untuk tim medis kembali ke Korea. Periode relawan kita sudah berakhir. Kalin bisa kembali. Kalian juga bisa memilih untuk tetap tinggal" Dokter Mo memulai repat tentang siapa saja yang ingin kembali ke Korea
"Kita harus merawat pasien di tempat tidur no.8 dengan MRI rinci. Tolong berikan kursiku untuk mengirim pasien itu ke Korea" Dokter Ja Ae
"Tolong berikan tempat dudukku untuk pasien di tempat tidur nomor 10. Permisi, aku harus memerikasa pasien" Dokter lainnya
"Kau juga boleh mengangkat tanganmu sunbae" kata Dokter Mo pada Dokter Song. Namun dokter lucu ini memilih tetap tinggal bersama Dokter yang dia sukai, Dokter Ja Ae
"Kenapa kau bicara padaku. Aku tidak akan pergi. Biarkan tempat dudukku kosong. Jiwaku akan duduk disana" celoteh Dokter Song yang sebenarnya ingin pergi dan kembali ke Korea yang kemudian dibalas dengan senyuman manisnya yang khas oleh Dokter Mo.
Chi Hoon mengunjungi Kim Min Jae (pasien yang dia tinggalkan ketika terjadi guncangan karena ulah Tuan Jin) secara diam-diam. Dokter kocak ini merasa sangat menyesal ketika meninggalkan Kim Min Jae saat guncangan kembali terjadi

"Apa kau dokter?? aku pikir bukan. Karena... apa dokter diperbolehkan meninggalkan psienya??" Kim Min Jae merasamarah dan pergi meninggalkan Chi Hoon
"Apa yang kau lakukan?? Apa kau tidak mendengar tentang pertemuan itu? Aku menaruh namamu di daftar. Hee Eun (istri Chi Hoon) juga akan melahirkan. Kau harus berada disana untuknya" kata Dokter Mo pada Chi Hoon setelah Kang Min Jae pergi

Keadaan kembali normal, dan Kapten Yoo Shi Jin mengumpulkan semua pasukan dan tim medis untuk mengumumkan akan jumlah korban yang meninggal dan luka-luka. Si kapten ganteng juga mengakhiri proses pencarian pegawai di pembangkit tenaga listrik. Kemudian sirine berbunyi, itu tanda mengheningkan cipta untuk para korban meninggal di mulai.

Setelah saluran telepon bisa digunakan kembali, Dokter Mo melepon rekannya di rumah sakit Haesung. Melihat percakapan mereka. Dan cuplikan di akhir episode 8 ini. Sepertinya Dokter Mo memilih tetap tinggal dan tidak kembali ke Korea. Mungkin si kapten yang jadi alasan dokter cantik ini. hihihihi.... ^^.

Ditempat lain, Daniel sedang sibuk memperbaiki sesuatu, lalu Dokter Jae Ae dan asistennya datang.
"Apa alat ini rusak?" tanya Daniel sambil mengambil barang yang dibawa dokter dan asistennya itu
"Iya... alat ini tidak berfungsi. Kudengar kau jago dalam hal berbengkel"
"Kalian datang di tempat yang tepat. Aku jago memperbaiki mesin atau manusia. Aku bisa memperbaiki semuanya. Satu-satunya yang tidak bisa kuperbaiki mungkin hati seorang wanita!" Aih aih.... si Daniel ketularan kapten Yoo nih. Bahkan dia juga pintar nge-gombal loh. Kalau Ye Ri Hwa tahu, tamat dia ^^.
Di ruangan lain, Kapten Yoo dan Sersan Seo sedang berbincang lalu masuk Letnan Yoon.
"Kapten, komandan ingin berbicara pada menantu kesayangannya" Letnan Yoon tidak tahu kalu ada Sersan Seo disana. Kemudian keadaan menjadi canggung namun mereka malah bergurau dan Kapten Yoo meledek Sersan Seo
"Hei, kenapa kau bisa menutup telepon komandan seperti itu?" protes Kapten Yoo pada Letnan Yoon sambil menunjuk pada ponsel yang ada di tangan Letnan Yoo
"Ini kan hanya telepon dari ayahku?" jawab Letnan Yoon
"Menantu, ya?" seloroh Sersan Seo
"Kau mungkin salah dengar, dia bilang 'Kapten'" Kapten Yoo mengelak
 
 "Apa kalian menusukku dari belakang" Sersan Seo rupanya cemburu niye
"Apa dia sedang cemburu sekarang?" Letnan Yoon menggoda kekaishnya itu
"Apa kau suka masuk ke ruangan pria sendirian begini?" tanya Sersan Seo sambil berdiri tepat di hadapan Letnan Yoon
"Jadi, benar kau cemburu?"
"Kalau aku cemburu memangnya kenapa?" protes sersan Seo. Bukannya senang berduaan, Sersan Seo malah menghindar dan pergi meninggalkan Letnan Yoon di ruangan itu dengan alasan harus bertugas. Ihhh.... padahal udah jadi bintang iklan bareng. Masak masih malu-malu meong ^^. hikshikshiks

Kapten Yoo sengaja membiarkan Sersan Seo dan Letnan Yoon berduaan. Lalu si ganteng pujaan hati admin kece ini menemui Daniel di ruangannya sambil berbincang sedikit.

"Lagu apa berikutnya?" tanya Kapten Yoo pada Daniel santai
"Entahlah, Dokter Kang yang memilih lagunya" jawab Daniel. Kemudian sesaat suara rekaman Dokter Kang waktu mobilnya mengalami kecelakaan di tepi jurang menjadi playlist selanjutnya dan didengar oleh Kapten Yoo dan Daniel. Juga oleh semua ruangan atau tempat yang bisa mendengar suara dari alat pengeras itu. Ottoeki.... Mungkin sudah saatnya Dokter Mo jujur ama sikapten tentang perasaanya yak ^^.

"Aku tahu keadaan seperti ini akan terjadi disini. Aku harusnya tidak kesini. Kau akan menyelamatkanku kan, Yoo Shi Jin?"
"Sepertinya aku akan jatuh sebelum kau sampai kesini. Meski begitu kau juga yang akan menemukan mayatku pertama kali"
"Tapi jika aku tahu aku akan mati seperti ini. Harusnya aku memberitahumu perasaanku yang sebenarnya. Aku merasa bahagia bisa dicium oleh pria yang sangat tampan. Hatiku merasa sangat bahagia".
Dan rekaman Dokter Mo menjawab semuanya. Duhhh.... episode selanjutnya pasti bikin keki deh. Dokter Mo pasti jadi bulan-bulanan seluruh tim dan para tentara juga pasien yang ada disana. Aigooo..... inilah waktunya sang kepten menag. Dokter Mo.... mengakulah!! Lihat tuh si kapten udah senyum-senyum ke-GR-an ^^.
Tapi tumben bener endingnya manis begini, biasa writernim suka nge-baperin atau nge-phpin kita, kan?? semacam mencurigakan. Semoga next episode aman dan jongki tetep ganteng dengan senyum memukaunya ^^. *Aminnnnn berjamaah :))

BERSAMBUNG...
Continued On The Next Episode ^^ [Episode 9] ^^ Episode Sebelumnya [Episode 7] DISINI

Drama Kece, Inspirasinya pasti oke, kan?

Hello there, thank you for checking out my blog :) Respect the work of others and still be YOURSELF! Trust, your email address will not be published. Required fields are Marked ^^ XOXO
EmoticonEmoticon